Surat Perawat Untuk Ketua Umum PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia) - SUARA PERAWAT

Header Ads

Surat Perawat Untuk Ketua Umum PPNI (Persatuan Perawat Nasional Indonesia)

Foto dokumentasi super: Petremuan Ketum PPNI dengan Jokowi
Assalamu alaikum Wr.Wb.
Pak Harif, apa kabar? Kayaknya saya tidak perlu memperkenalkan diri, karena meski tidak pernah ketemu, secara tidak langsung kita sudah saling kenal, lewat medos.

Pak Harif, saya menulis surat terbuka ini bukan karena saya punya kepentingan. Mungkin secara politis ya. Tapi untuk apa? Lha wong saya ini, bukan siapa-siapa. Jangankan pejabat atau Caleg, PNS saja saya tidak, dosen juga tidak, apalagi pengurus OP. Oh ya, terakhir pernah saya dipercaya sebagai Dewan Pembina PPNI di Qatar tahun 2013. Tapi sesudah balik ke Indonesia, tidak aktif. Tapi kalau kepeduli dengan perawat, sebagai senior, saya punya.

Begini Pak Harif.....

Sebagai sesama senior (sepertinya umur kita kurang lebih sama), Bapak pasti mengamati apa yang sedang dialami dan terjadi pada perawat Indonesia. Begitu kompleks permasalahannya, sehingga kami mengerti, di tengah kesibukan Bapak, pasti terkadang sulit, harus memulai dari mana memecahkan persoalannya.

Mengapa saya ingin memberikan masukan lewat medsos? Karena medsos ini kayak pasar. Semuanya ada di dalamnya. Mulai perawat yang paling susah, hinggah yang top paling berhasil bisnisnya, semuanya tersedia. Dari Papua, hingga Aceh Utara. Dari Indonesia, hingga Amerika. Semuanya bisa terbaca kisah sukses, curhat dan keluh kesahnya.

Saya pernah ditunjuk sebagai Ketua PPNI Kuwait yang pertama, tahun 1993. Selama 20 tahun lebih di luar negeri, sebagian waktu luang saya gunakan untuk menyemangati teman-teman, bagimana agar profesi kita ini bisa maju. Terakhir di Qatar, terlihat hasilnya. Mereka di sana sudah mapan dalam artian penghasilan, saat ini juga mapan dalam artian pendidikan. Kini, lebih dari 80% perawat kita dulu D3, sekarang sarjana. Dari 65 perawat yang ada, 3 di antaranya S2 dan lebih dari 10 orang saat ini sedang mengambil S2. Luar biasa......

Tetapi, itu di luar negeri.

Di dalam negeri ini, sangat miris kondisi mereka. Jangankan lanjut kuliah lagi. Untuk makan dan beli pulsa saja, masih banyak yang minta subsidi orangtua. Penghasilan minim, pelatihan pengembangan diri sulit, status kepegawaian yang statis, adalah 3 persoalan besar yang dihadapi kolega kita. Curhatnya muncul setiap hari. Mereka, anggota kita, anak buah Bapak.

Namun demikian, di tengah-tengah kekurangan yang teman-teman yunior hadapi, kita memiliki secercah harapan berupa potensi yang luar biasa yang Bapak bisa maksimalkan pemanfaatannya. Tentu saja, dengan dukungan pengurus dan seluruh perawat Indonesia.

Ada 4 potensi besar yang dimiliki perawat Indonesia.

Pertama, dana. Kami mengerti, sarana fisik seperti gedung dan kendaraan, itu penting. Tetapi menurut hemat saya, itu bukanlah prioritas. Fir’aun dulu, zamannya Nabi Musa, juga punya semuanya, tetapi hancur. Mengapa? Karena mereka hanya fokus ke infrastruktur, tersesat, tidak mematuhi ajakan Nabi Musa. Jadi, dana dari iuran anggota ini bisa gunakan untuk peningkatan dan pembinaan SDM nya. Misalnya pelatihan, penelitian dan pengadaan proyek seperti BLK, dsb. Dirikan Pusat Penelitian Laboratorium Keperawatan Indonesia sebagai pusat kegiatan. Tidak harus mewah. Kalaupun bayar, murahkan. Dengan demikian, kita tidak punya gedung OP tidak masalah, asal teman-teman sejahtera. Punya gedung OP, RS atau klinik dan kendaraan bagus, itu jangka panjang saja.

Kedua, potensi keterampilan. Sejauh ini, kita selalu claim bahwa skill perawat kita tidak diragukan. Tetapi mengapa pengangguran ada di mana-mana? Kalaupun kerja, mengapa masih dibayar murah? Itu karena kita mengesampingkan peran keterampilan tambahan (Extra Skills). Keterampilan extra ini akan bantu mendongkrak penghasilan mereka. Misalnya ICU, Kamar Operasi, HD, atau bahasa. Ambilkan dananya dari iuran anggota. Kalau aturan dalam AD/ART kurang mendukung, diubah juga bisa. Pasti ada orang-orang yang bersedia ‘dibayar murah’ (saya tidak gunakan istilah gratis). Lebih baik Kas Bendahara kosong tapi anggota bahagia, dari pada Rekening OP besar, tapi teman-teman susah.

Ketiga, potensi kewira-usahaan. Kalau Bapak lihat kiprah teman-teman di medsos, luar biasa di sektor yang satu ini: entrepreneurship. Ini merupakan potensi luar biasa yang bisa dimanfaatkan. Kumpulkan teman-teman yang memiliki visi misi yang sama. Punya STR atau tidak, lulus Ukom atau tidak, tidak masalah. Ajak mereka untuk bersatu, ketemu di hotel. Pasti teman-teman tidak keberatan untuk sharing ilmu, pengetahuan, keterampilan dan network. Ini menyangkut perolehan peluang kerja. Insyaallah sangat besar manfaatnya.

Keempat, potensi IRNA (Indonesian Returnee Nurses Association). Pak Harif, kita punya ratusan teman-teman perawat hebat mantan luar negeri. Bukan hanya saya. Juga tidak perlu gunakan saya, jika Bapak ‘kuatir’. Mereka ini memiliki ilmu, keterampilan dan kemampuan bahasa yang handal. Ajak mereka, himbau mereka untuk memberikan pembekalan kepada yunior. Saya yakin, mereka sangat tidak keberatan. Mulai dari mantan kerja di Belanda, Saudi, Kuwait, UAE, Qatar, Jepang, hingga Australia.

Pak Harif.......Keempat potensi di atas memang tidak ringan realisasinya. Tetapi dengan kemauan, secara bertahap, bisa diimplementasikan. Kendalanya, kalau semua ‘gratisan’ mungkin sulit mendapatkan sukarelawan guna membuat proposalnya. Organisasi Profesi bisa umumkan semacam ‘Sayembara Berhadiah’. Saya yakin, banyak teman-teman ‘kaya’ yang bersedia dengan senang hati membantu.

Kondisi perawat Indonesia saat ini sudah kronis kalau tidak dibilang parah. Lebih dari 65% setiap tahun dari mereka yang lulus, terancam pengangguran. Pemerintah hanya mampu menyerap 34% nya. Jika OP tidak secara aktif berpartisipasi, masalahnya jadi epidemik. Sesibuk apapun Bapak duduk sebagai Ketua Umum, akan dibully terus sama teman-teman. Saya pribadi sangat risih dengan bully-an teman-teman kepada penggede profesi.

Memang berat jadi Ketua Umum OP. Selain tidak dibayar, harus rela dicerca. Tapi jika ikhlas, sungguh mulia. Pahalanya Surga.
Mohon maaf jika saya lancang. Semoga Pak Harif diberikan kekuatan dalam mengemban tugas besar ini.

Mari kita kerja dan bangun bersama, agar dunia keperawatan Indonesia bisa jaya.

Wassalam,
Malang, 29 November 2018/Syaifoel Hardy


Artikel diatas telah diposting di SUARA PERAWAT (SUPER) oleh Syaifoel Hardy II/ dengan judul:
KETUA UMUM PPNI, AYO KITA BANGUN PERAWAT BARENG-BARENG PAK!