CERITA SEORANG PERAWAT BERHENTI JADI PNS - SUARA PERAWAT

Header Ads

CERITA SEORANG PERAWAT BERHENTI JADI PNS


Siapa yang tidak suka jadi PNS?
PNS, adalah satu-satunya status yang paling bergengsi di negeri ini. Penghasilan lancar, terpandang di tengah masyarakat, bisa pegang jabatan, punya anak buah. Mau ke mana-mana ada fasilitas. Bahkan naik Haji dan Umrah bisa gratis. Belum lagi adanya jaminan masa depan.

Tidak heran, boleh dikata hampir 100% mereka yang kerja di dunia nursing-keperawatan mengidolakan PNS sebagai tujuan utama perolehan kerja. Kalau bukan yang bersangkutan, minimal orangtua mereka. Saking demennya jadi PNS, mereka rela memulai karirnya untuk sekedar magang tanpa bayar, jadi tenaga honorer bertahun-tahun.
Tidak terkecuali teman-teman angkatan sekolah kami. 100% diangkat jadi PNS.

Pertama kali diangkat jadi Calon PNS, tahun 1983, gaji hanya Rp 25 ribu. Pangkat Golongan sebagai Tenaga Pelaksana, II/A. Hitungannya, penghasilan tersebut, sangat kecil. Selain, sebagai bawahan. Bawahan, artinya tempat kita bersedia untuk disuruh atau diperintah.

Maklumlah, lulusan SPK, itu levelnya SLTA. Untuk naik pangkat ke Golongan II/B, harus nunggu 4 tahun lagi. Demikian seterusnya. Berarti, guna mencapai jabatan III/A, butuh waktu sekitar 16 tahun. Untuk mendapatkan jabatan tinggi dengan golongan IV/A, harus nunggu 32 tahun.

Itu kalau mulus………

Hitungan tersebut, sempat muncul dalam fikiran saya waktu itu. Yang sedikit ‘mengganggu’ adalah, adakah cara lain yang lebih cepat apabila ingin meniti karir selain PNS ini? Adakah jalan lain yang lebih dinamis sementara kerja di swasta gajinya relative lebih rendah dari pada PNS?

Selain itu, kerja di swasta di negeri ini jam kerjanya lebih panjang. Liburan juga sedikit. Tidak ada pensiunan. Inilah gambaran kerja di swasta di negeri kita.

Hidup tidak seperti rumus Matematika. Dua kali dua tidak harus empat. Dua kali dua bisa sama dengan enam dikurangi dua. Bisa juga tiga ditambah satu. Atau delapan dibagi dua. Bagi saya, hidup adalah keberanian dan perjuangan menghadapi tantangan. Kalau sekedar hidup, tidak sekolah dan tidak perlu kerja, juga bisa.

Alhamdulillah, orangtua memberi kemerdekaan untuk memutuskan diri sendiri. Saya putuskan keluar dari PNS dengan tanpa beban. Saya pasang strateginya. Sambil kerja di swasta untuk sementara, saya kuliah lagi.

Sesudah itu, melanglang ke luar negeri. Selama lebih kurang 21 tahun, sebelum akhirnya balik ke Indonesia.
Alhamdulillah, meski saya tidak kaya, tetapi saya diberi Allah SWT keberanian mengambil keputusan keluar dari PNS. Subhanallah, ini adalah investasi. Yakni berupa keseriusan menghadapi tantangan hidup.

Sementara teman-teman saya masih sibuk menjadi staff di RS, kampus atau Puskesmas dan rutin berangkat kerja ada yang sebelum jam 6 pagi, dan pulang pukul 5 sore, saya cukup bebas melakukan kerja dengan jadwal tidak terikat.

Namun begini: mau jadi PNS itu keren, kerja di swasta itu berwibawa, mau kerja mandiri juga bergengsi.

Semuanya dihitung sebagai pengabdian manakala prinsipnya sama. Yakni, agar mendapatkan kepuasan, kita harus menyintai pekerjaan sesuai pilihan. Bukannya memaksakan diri untuk tidak mampu memilih dalam melakukan sebuah pekerjaan.

Malang, 8 November 2017
SYAIFOEL HARDY

Sumber : Suara Perawat