Langsung ke konten utama

Pasien Akui Pelayanan Perawat Cukup Memuaskan.

"Kehadiran Dokter Masih Minim"



Medan. Meskipun RSUD dr Pirngadi Medan saat ini sudah berumur 88 tahun, namun persoalan pelayanan masih menjadi salah satu kelemahan di rumah sakit (RS) milik Pemko Medan tersebut. Salah satunya yang dikeluhkan oleh pasien maupun keluarga pasien, adalah minimnya kehadiran dokter.

Seperti halnya diungkapkan oleh Susi, istri dari pasien penderita prostat saat ditemui diruang rawat inap kelas III RS Pirngadi. Ia mengaku, dokter di RS tersebut hanya dapat ditemui olehnya seminggu sekali. "Yang sering adalah dokter coass. Kalau dokter yang menangani, paling hadirnya hanya seminggu sekali," ujarnya saat ditemui, Senin (8/8).

Kendati begitu, Susi mengaku memang tidak begitu mempersoalkan kehadiran dokter itu. Karena, dokter muda yang tersedia menurutnya sudah cukup memuaskan pihaknya. "Hanya saja di saat kita butuh kehadiran dokter yang berwenang, kita harus melaporkan dulu, tidak bisa langsung. Nanti selanjutnya dokter muda yang menghubunginya, baru kita bisa ketemu," jelasnya.

Namun, Susi beranggapan, jika dokter di RS Pirngadi bisa selalu standby, maka pelayanan yang didapat bisa lebih maksimal. Sehingga pasien ataupun keluarga pasien, di RS Pirngadi dapat dengan lebih mudah mengakses dokter.

Begitupun dengan yang dikatakan keluarga pasien lainnya Abdul Harahap warga asal Padang Lawas. Namun, ia mengaku dokter yang merawat anaknya, kehadirannya cukup lebih sering. "Dokter yang merawat anak saya hadirnya seminggu dua kali. Kalau pelayanan lainnya seperti perawat, bisa dibilang cukup memuaskan lah," ujarnya singkat.

Sementara itu, Kassubag Hukum dan Humas RSUD dr Pirngadi Edison Perangin-angin saat dikonfirmasi, mengakui, dokter di RS ini seharusnya melakukan kunjungan ke pasien setiap hari.

Namun, sebut Edison, jika dokter tersebut berhalangan hadir, bisa dikuasakan ke asistennya dalam hal ini dokter PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis). "Kalau dokter yang menangani tidak bisa hadir, biasanya mereka tidak dihitung uang visitnya," singkatnya. (rozie winata)

sumber: medanbisnisdaily.,com

Komentar

Pos populer dari blog ini

Perawat Kecam Sikap Arogansi Gubernur Jambi Zumi Zola

Suaraperawat.com, Jakarta._ Menanggapi sikap dari Gubernur Jambi, Zumi Zola menuai ribuan protes serta kecaman dari puluhan ribu perawat yang tergabung dalam komunitas perawat di sosial media.

Mereka menilai Zumi Zola mengamuk, menghardik dan membanting kursi, pukul meja bahkan juga menendang tempat sampah saat ia keluar dari ruangan petugas jaga rumah sakit adalah perbuatan yang sangat blunder dan penuh arogansi.

"Kepada orang biasa saja tidaklah patut berbuat demikian , mirip seperti menggebah ayam yang masuk ke pekarangan, apalagi terhadap perawat dan dokter yang merupakan orang-orang terdidik. Dan sikap arogansi ini dilakukan oleh seorang gubernur", komentar salah satu supers di grup Suara Perawat.

Kronologis kejadiannya adalah ketika orang nomor satu di Jambi ini inspeksi mendadak (sidak) pada Jumat (20/1), dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Ia mendapati pegawai tugas jaga, perawat dan dokter yang tidur, lalu ia mengamuk, menghardik serta membanting kursi dan pukul meja…

SURAT TERBUKA KAMI ”SUARA PERAWAT INDONESIA” UNTUK BAPAK GUBERNUR ZUMI ZOLA YANG TERHORMAT

Minggu 22 januari 2017 terus ramai perbincangan di media sosial mengenai bapak gubernur yang terhormat bapak Zumi Zola terkait sidaknya ke RSUD Raden Mataher Jambi, dan beredar pula vidio yang berdurasi kurang lebihnya 3 menit, banyak kontroversi dari para netizen dalam menanggapi vidio tersebut.

Terlepas dari semua kasus ini, biarlah profesi kami profesi tenaga kesehatan yang khususnya kami perawat indonesia menjadi sebuah ajang evaluasi, evaluasi kami di berbagai lini, semoga dari kejadian ini akan menjadi hikmah buat kami tenaga kesehatan khusunya kami perawat indonesia.


Dear bapak gubernur yang terhormat,
Dalam melakukan sidak dan mengevaluasi kami selaku tenaga kesehatan khusunya kami Perawat Indonesia, perlakukanlah kami sebagai profesi perlakukanlah kami sebagai manusia, kami masih mempunyai hati dan perasaan, kesalahan kami bukanlah kesalahan seperti maling bahkan koruptor yang benar-benar hina yang menyengsarakan rakyat.

Dalam melakukan evaluasi tidak harus dengan intonasi …

Perawat Shift Malam Beresiko Tinggi Terkena Penyakit Jantung Koroner

Para peneliti menemukan bahwa perawat yang mendapatkan shift malam selama 10 tahun atau lebih, beresiko 15 persen terkena penyakit jantung koroner dibandingkan dengan wanita yang jarang mendapatkan jaga malam.

“Ada sejumlah faktor risiko untuk penyakit jantung koroner. Seperti merokok, pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik dan indeks massa tubuh yang tinggi. Kami masih melihat peningkatan risiko penyakit jantung koroner yang berhubungan dengan kerja shift,” kata pemimpin peneliti, Celine Vetter, seperti dilansir laman NBC, Kamis (26/5).

Sementara, The International Agency for Research on Cancer mengatakan, bahwa kerja shift malam mungkin menyebabkan kanker. Ini dikaitkan dengan kanker payudara dan jenis kanker lainnya serta diabetes dan gangguan tidur.

Untuk studi ini, para peneliti melihat dua studi kesehatan perawat wanita sejak 1976. Setiap dua tahun, lebih dari 300 ribu perawat atau mantan perawat melaporkan kesehatan dan kebiasaan mereka.

Tim peneliti mendefinisikan penyak…