Langsung ke konten utama

Perawat Ini Selamatkan Bayi di Kereta Api.

Dwi Agustin Viki Wilnawati (23), walaupun kini telah banting setir menjadi Customer service (CS) Kereta Api, namun kompetensi (kemampuan) atau naluri sebagai perawat tak pernah hilang. #super
Seorang penumpang perempuan Kereta Api Dhoho relasi Surabaya-Blitar melahirkan anaknya di perjalanan, Rabu (4/1/2017). Beruntung, ibu dan bayinya selamat usai dibantu Wilnawati petugas loket (CS) yang lulusan perawat.

Petugas CS di DAOP 7 Madiun itu merupakan lulusan Akper dr Soedono Madiun. Dengan latar belakang sebagai seorang perawat, ia mengetahui soal ilmu persalinan.
Wilna pun berani mengambil tindakan melakukan penyelamatan kepada Ny Suksesih.
Saat memberi pertolongan, seperti dikisahkan Wilna, bayi sudah keluar namun terlilit tali pusar. Bayi dalam kondisi kekurangan oksigen karena para penumpang banyak yang berkerumun.

Wilna menunggu tangisan bayi untuk melakukan tindakan selanjutnya. Beberapa menit kemudian, si bayi menangis dan Wilna segera memberikan penanganan. Tangisan bayi menandakan bayi dalam kondisi yang sehat.
"Setelah menangis, saya minta bantuan mbak Rara mencarikan gunting dan sobekan kain untuk membungkus tali pusarnya," ujar Wilna.

Gunting yang dipakai pun gunting biasa yang disterilkan pakai alkohol. Wilna mengaku tidak ada kepikiran untuk penanganan medis yang selayaknya karena situasi tidak memungkinkan.
Plasenta masih tertinggal di perut Ny Sukesih.

Sembari nunggu ambulan, Wilna terus memberi pertolongan kepada bayi.
"Yang aku pikir, bayi itu harus selamat baru ibunya," kata dia.

Ia potong tali pusarnya sembari berdoa berharap semuanya aman. Sebelum ambulan datang, bayi bisa diselamatkan.
Wilna langsung membungkus bayi dengan mukena yang dibawa Ny Suksesih. Tak lama berselang, ambulan datang di lokasi.
Ibu dan bayinya langsung diantar ke rumah sakit untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.

Diberitakan sebelumnya, Kepala Humas DAOP 8 Surabaya Gatut Sutiyatmoko mengungkapkan akan ada penghargaan atas jasa para penolong penumpang yang melahirkan di KA Dhaha.
KA Dhaha berada di bawah manajemen DAOP 8 Surabaya.
"Tapi keputusan tetap dari pusat. Bentuknya seperti apa, pusat yang memutuskan," ujar Gatut. (Benni Indo) / tribuntimur..com

Komentar

Pos populer dari blog ini

Perawat Kecam Sikap Arogansi Gubernur Jambi Zumi Zola

Suaraperawat.com, Jakarta._ Menanggapi sikap dari Gubernur Jambi, Zumi Zola menuai ribuan protes serta kecaman dari puluhan ribu perawat yang tergabung dalam komunitas perawat di sosial media.

Mereka menilai Zumi Zola mengamuk, menghardik dan membanting kursi, pukul meja bahkan juga menendang tempat sampah saat ia keluar dari ruangan petugas jaga rumah sakit adalah perbuatan yang sangat blunder dan penuh arogansi.

"Kepada orang biasa saja tidaklah patut berbuat demikian , mirip seperti menggebah ayam yang masuk ke pekarangan, apalagi terhadap perawat dan dokter yang merupakan orang-orang terdidik. Dan sikap arogansi ini dilakukan oleh seorang gubernur", komentar salah satu supers di grup Suara Perawat.

Kronologis kejadiannya adalah ketika orang nomor satu di Jambi ini inspeksi mendadak (sidak) pada Jumat (20/1), dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Ia mendapati pegawai tugas jaga, perawat dan dokter yang tidur, lalu ia mengamuk, menghardik serta membanting kursi dan pukul meja…

SURAT TERBUKA KAMI ”SUARA PERAWAT INDONESIA” UNTUK BAPAK GUBERNUR ZUMI ZOLA YANG TERHORMAT

Minggu 22 januari 2017 terus ramai perbincangan di media sosial mengenai bapak gubernur yang terhormat bapak Zumi Zola terkait sidaknya ke RSUD Raden Mataher Jambi, dan beredar pula vidio yang berdurasi kurang lebihnya 3 menit, banyak kontroversi dari para netizen dalam menanggapi vidio tersebut.

Terlepas dari semua kasus ini, biarlah profesi kami profesi tenaga kesehatan yang khususnya kami perawat indonesia menjadi sebuah ajang evaluasi, evaluasi kami di berbagai lini, semoga dari kejadian ini akan menjadi hikmah buat kami tenaga kesehatan khusunya kami perawat indonesia.


Dear bapak gubernur yang terhormat,
Dalam melakukan sidak dan mengevaluasi kami selaku tenaga kesehatan khusunya kami Perawat Indonesia, perlakukanlah kami sebagai profesi perlakukanlah kami sebagai manusia, kami masih mempunyai hati dan perasaan, kesalahan kami bukanlah kesalahan seperti maling bahkan koruptor yang benar-benar hina yang menyengsarakan rakyat.

Dalam melakukan evaluasi tidak harus dengan intonasi …

Perawat Shift Malam Beresiko Tinggi Terkena Penyakit Jantung Koroner

Para peneliti menemukan bahwa perawat yang mendapatkan shift malam selama 10 tahun atau lebih, beresiko 15 persen terkena penyakit jantung koroner dibandingkan dengan wanita yang jarang mendapatkan jaga malam.

“Ada sejumlah faktor risiko untuk penyakit jantung koroner. Seperti merokok, pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik dan indeks massa tubuh yang tinggi. Kami masih melihat peningkatan risiko penyakit jantung koroner yang berhubungan dengan kerja shift,” kata pemimpin peneliti, Celine Vetter, seperti dilansir laman NBC, Kamis (26/5).

Sementara, The International Agency for Research on Cancer mengatakan, bahwa kerja shift malam mungkin menyebabkan kanker. Ini dikaitkan dengan kanker payudara dan jenis kanker lainnya serta diabetes dan gangguan tidur.

Untuk studi ini, para peneliti melihat dua studi kesehatan perawat wanita sejak 1976. Setiap dua tahun, lebih dari 300 ribu perawat atau mantan perawat melaporkan kesehatan dan kebiasaan mereka.

Tim peneliti mendefinisikan penyak…