Langsung ke konten utama

Kementrian ristek & dikti: Dosen PT Keperawatan Tidak Memenuhi Syarat, 32.000 orang Masih S1



Surabaya (SIB)- Dirjen Kelembagaan Ilmu Pengetahuan, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Dr Patdono Suwignjo mengatakan sebanyak 32.000 dosen Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (Stikes) hingga kini masih S1 (strata-1).

“Secara nasional, sebanyak 32.000 dosen Stikes tidak memenuhi syarat pendidikan minimal S2, khususnya untuk ilmu keperawatan dan kebidanan,” katanya dalam Seminar dan Workshop Pendidikan Magister Keperawatan Terapan yang diadakan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) di Surabaya, Jumat.

Saat ini, ia mengatakan program S2 ilmu keperawatan dan kebidanan baru ada 13 program di Indonesia, yaitu enam program S2 pada perguruan tinggi swasta dan tujuh program S2 pada perguruan tinggi negeri.

Di Jawa Timur hanya ada 3 Perguruan Tinggi, yaitu Universitas Airlangga, Universitas Brawijaya dan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya.

“Kami sangat kekurangan dosen S2, masih ada 32.000 dosen Stikes yang belum memenuhi syarat kualifikasi magister keperawatan dan kebidanan. Saat ini ada 23 perguruan tinggi yang mengusulkan magister keperawatan dan kebidanan baru, tapi usulan tersebut masih dalam tahap proses,” paparnya.

Namun, lanjut Patdono, meski kebutuhan dosen ilmu kesehatan ini masih sangat kurang, tetapi untuk memberikan mandat magister tidak mudah, karena itu pihaknya akan sangat selektif.

“Secara umum prodi yang terkait dengan kesehatan, kan berhubungan langsung dengan nyawa manusia sehingga sangat elektif. Prodi ini risikonya sangat tinggi, maka kita sangat selektif, hanya perguruan tinggi yang memenuhi syarat kita beri mandat,” tandasnya.

Dia menambahkan, yang paling penting dalam pemberian mandat magister keperawatan dan kebidanan ini adalah mutunya. Sebanyak 23 usulan magister keperawatan dan kebidanan itu sudah dalam proses dan pengumuman prodinya dilakukan pada 25 Mei hingga 25 Juli 2016, termasuk Unusa.

“Untuk visitasi dan melihat langsung layak-tidaknya perguruan tinggi mendapat mandat akan dilakukan setelah hari raya. Untuk prodi kita tunjuk tim, kita minta untuk datang ke pelosok Indonesia untuk melihat prodi mana yang potensial,” paparnya.

Ia menambahkan setelah lebaran akan diproses, yakni proses kelayakan-tidaknya diberikan mandat. Nantinya akan didatangi terkait dosen, peralatannya hingga konsep kurikulum yang bagus, kalau syaratnya tidak dipenuhi maka izin tidak akan turun.

“Untuk proses diperkirakan membutuhkan waktu satu bulan. Dengan proses yang dimulai pertengahan Juli, maka pertengahan Agustus bisa ada pengumuman,” ujarnya.

Dia menuturkan bahwa saat ini untuk mendirikan program dan perguruan tinggi tidak semudah dulu, sekarang izin ada dua, dari Dikti dan BAN PT untuk mendapatkan akreditasi minimal.

Sementara itu, Ketua Umum Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (Yarsis) Prof Mohammad Nuh DEA mengatakan bahwa saat ini Unusa telah mendapatkan mandat untuk mengadakan program Magister Keperawatan Terapan.

Menurutnya, hal ini sebagai upaya Unusa untuk tetap meningkatkan kualitas pendidikan yang bukan hanya pengembangan kampus Unusa. ” Dipilihnya program magister keperawatan terapan ini karena melihat kebutuhkan dosen atau pendidik di perguruan tinggi ilmu kesehatan khususnya keperawatan dan kebidanan masih sangat besar,” jelasnya.

Dengan demikian, peluang untuk menjadi dosen setelah menempuh magister akan sangat besar. Selain itu, magister tidak hanya dibutuhkan di dunia pendidikan, namun rumah sakit juga membutuhkan tenaga khusus dari magister keperawatan.

sumber: kopertis12 or id

Komentar

Pos populer dari blog ini

Perawat Kecam Sikap Arogansi Gubernur Jambi Zumi Zola

Suaraperawat.com, Jakarta._ Menanggapi sikap dari Gubernur Jambi, Zumi Zola menuai ribuan protes serta kecaman dari puluhan ribu perawat yang tergabung dalam komunitas perawat di sosial media.

Mereka menilai Zumi Zola mengamuk, menghardik dan membanting kursi, pukul meja bahkan juga menendang tempat sampah saat ia keluar dari ruangan petugas jaga rumah sakit adalah perbuatan yang sangat blunder dan penuh arogansi.

"Kepada orang biasa saja tidaklah patut berbuat demikian , mirip seperti menggebah ayam yang masuk ke pekarangan, apalagi terhadap perawat dan dokter yang merupakan orang-orang terdidik. Dan sikap arogansi ini dilakukan oleh seorang gubernur", komentar salah satu supers di grup Suara Perawat.

Kronologis kejadiannya adalah ketika orang nomor satu di Jambi ini inspeksi mendadak (sidak) pada Jumat (20/1), dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Ia mendapati pegawai tugas jaga, perawat dan dokter yang tidur, lalu ia mengamuk, menghardik serta membanting kursi dan pukul meja…

SURAT TERBUKA KAMI ”SUARA PERAWAT INDONESIA” UNTUK BAPAK GUBERNUR ZUMI ZOLA YANG TERHORMAT

Minggu 22 januari 2017 terus ramai perbincangan di media sosial mengenai bapak gubernur yang terhormat bapak Zumi Zola terkait sidaknya ke RSUD Raden Mataher Jambi, dan beredar pula vidio yang berdurasi kurang lebihnya 3 menit, banyak kontroversi dari para netizen dalam menanggapi vidio tersebut.

Terlepas dari semua kasus ini, biarlah profesi kami profesi tenaga kesehatan yang khususnya kami perawat indonesia menjadi sebuah ajang evaluasi, evaluasi kami di berbagai lini, semoga dari kejadian ini akan menjadi hikmah buat kami tenaga kesehatan khusunya kami perawat indonesia.


Dear bapak gubernur yang terhormat,
Dalam melakukan sidak dan mengevaluasi kami selaku tenaga kesehatan khusunya kami Perawat Indonesia, perlakukanlah kami sebagai profesi perlakukanlah kami sebagai manusia, kami masih mempunyai hati dan perasaan, kesalahan kami bukanlah kesalahan seperti maling bahkan koruptor yang benar-benar hina yang menyengsarakan rakyat.

Dalam melakukan evaluasi tidak harus dengan intonasi …

Perawat Shift Malam Beresiko Tinggi Terkena Penyakit Jantung Koroner

Para peneliti menemukan bahwa perawat yang mendapatkan shift malam selama 10 tahun atau lebih, beresiko 15 persen terkena penyakit jantung koroner dibandingkan dengan wanita yang jarang mendapatkan jaga malam.

“Ada sejumlah faktor risiko untuk penyakit jantung koroner. Seperti merokok, pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik dan indeks massa tubuh yang tinggi. Kami masih melihat peningkatan risiko penyakit jantung koroner yang berhubungan dengan kerja shift,” kata pemimpin peneliti, Celine Vetter, seperti dilansir laman NBC, Kamis (26/5).

Sementara, The International Agency for Research on Cancer mengatakan, bahwa kerja shift malam mungkin menyebabkan kanker. Ini dikaitkan dengan kanker payudara dan jenis kanker lainnya serta diabetes dan gangguan tidur.

Untuk studi ini, para peneliti melihat dua studi kesehatan perawat wanita sejak 1976. Setiap dua tahun, lebih dari 300 ribu perawat atau mantan perawat melaporkan kesehatan dan kebiasaan mereka.

Tim peneliti mendefinisikan penyak…