Langsung ke konten utama

Perawat Terapkan Budaya Pamitan


ADA yang unik dalam pelayanan Rumah Sakit SOHC terhadap semua pasien. Usai menjalankan tugas, semua perawat langsung berbondong-bondong mengunjungi pasien. Sebelum berbaris khlayaknya upacara bendera, beberapa perawat memberikan salam dan pertanyaan tentang keadaan pasien. Mulai dari apa kabar, seperti apa keadaan sekarang, apa yang dikeluhkan, dan apa yang dibutuhkan.

Setelahnya, satu persatu perawat memperkenalkan diri. Dimulai dari kanan hingga kekiri. Satu orang yang mengomandoi, langsung menuturkan jika semua perawat yang dijadawalkan pada waktu itu meminta ijin untuk pulang. Juga meminta maaf jika dalam pelayanan yang diberikan kurang memuaskan.”Kita pamit. Tugas kita sekarang digantikan oleh perawat lainnya. Semoga saja cepat sembuh,”ujar Lisna salah seorang perawat.

Kata Lisna, budaya pamitan terhadap pasien merupakan salah satu keharusan yang wajib dipenuhi oleh semua perawat. Selain tuntutan, kunjungan untuk pasien juga merupakan etika dan salah satu daftar yang masuk dalam pelayanan penuh. Tentunya, hal ini juga dimaksud agar adanya keakrapan antara perawat dengan pasien.

”Kita harus menyatu dengan pasien. Kita harus kenal pasien, dan pasien juga kenal kita. Makanya setiap pulang, kita wajib pamitan. Meskipun sudah pamitan diwaktu-waktu tugas sebelumnya. Jadi ya kita pamitan terus kalau sudah usai tugas. Dan ini tentunya sangat menyenangkan sekali,”terangnya.

Meskipun tugas yang embannya teramat berat, namun dirinya mengaku tetap semangat untuk membantu semua pasien. Karena memang, niat awal dirinya menjadi perawat lantaran ingin membantu orang yang sakit. Karena dengan demikian, dirinya bisa memberikan ilmu yang bermanfaat bagi orang banyak.

”ini salah satu jalan bagi saya untuk mengabdikan diri. Apalagi dibuloan ramadhan seperti ini. Ini jelas akan sangat bermanfaat lagi. Memberikan pelayanan terbaik, senyuman dan sebagainya. Intinya pasien dapat terlayani dengan maksimal,”katanya.

Senada, Dwi Kristi juga menuturkan demikian. Dirinya mengaku senang untuk melayanai semua pasien.Karenanya, dalam pelayanan tersebut, dirinya mengaku akan memberikan yang terbaik dan sesuai dengan kemampuan yang dia miliki. Mulai dari memberikan suntikan kepada pasien, memeriksa infus, hingga mengecek keadaan pasien setiap waktunya.”Tentunya ini sangat menyenangkan. Selain kita bekerja, kita juga bisa mengenal orang yang lebih banyak.Intinya, semua pekerjaan dibawa senang dan jadikan sebagai ibadah. Dengan demikian, semua itu akan berjalan lancar,”katanya.(dy)

sumber:bontang prokal co

Komentar

Pos populer dari blog ini

Perawat Kecam Sikap Arogansi Gubernur Jambi Zumi Zola

Suaraperawat.com, Jakarta._ Menanggapi sikap dari Gubernur Jambi, Zumi Zola menuai ribuan protes serta kecaman dari puluhan ribu perawat yang tergabung dalam komunitas perawat di sosial media.

Mereka menilai Zumi Zola mengamuk, menghardik dan membanting kursi, pukul meja bahkan juga menendang tempat sampah saat ia keluar dari ruangan petugas jaga rumah sakit adalah perbuatan yang sangat blunder dan penuh arogansi.

"Kepada orang biasa saja tidaklah patut berbuat demikian , mirip seperti menggebah ayam yang masuk ke pekarangan, apalagi terhadap perawat dan dokter yang merupakan orang-orang terdidik. Dan sikap arogansi ini dilakukan oleh seorang gubernur", komentar salah satu supers di grup Suara Perawat.

Kronologis kejadiannya adalah ketika orang nomor satu di Jambi ini inspeksi mendadak (sidak) pada Jumat (20/1), dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Ia mendapati pegawai tugas jaga, perawat dan dokter yang tidur, lalu ia mengamuk, menghardik serta membanting kursi dan pukul meja…

SURAT TERBUKA KAMI ”SUARA PERAWAT INDONESIA” UNTUK BAPAK GUBERNUR ZUMI ZOLA YANG TERHORMAT

Minggu 22 januari 2017 terus ramai perbincangan di media sosial mengenai bapak gubernur yang terhormat bapak Zumi Zola terkait sidaknya ke RSUD Raden Mataher Jambi, dan beredar pula vidio yang berdurasi kurang lebihnya 3 menit, banyak kontroversi dari para netizen dalam menanggapi vidio tersebut.

Terlepas dari semua kasus ini, biarlah profesi kami profesi tenaga kesehatan yang khususnya kami perawat indonesia menjadi sebuah ajang evaluasi, evaluasi kami di berbagai lini, semoga dari kejadian ini akan menjadi hikmah buat kami tenaga kesehatan khusunya kami perawat indonesia.


Dear bapak gubernur yang terhormat,
Dalam melakukan sidak dan mengevaluasi kami selaku tenaga kesehatan khusunya kami Perawat Indonesia, perlakukanlah kami sebagai profesi perlakukanlah kami sebagai manusia, kami masih mempunyai hati dan perasaan, kesalahan kami bukanlah kesalahan seperti maling bahkan koruptor yang benar-benar hina yang menyengsarakan rakyat.

Dalam melakukan evaluasi tidak harus dengan intonasi …

Perawat Shift Malam Beresiko Tinggi Terkena Penyakit Jantung Koroner

Para peneliti menemukan bahwa perawat yang mendapatkan shift malam selama 10 tahun atau lebih, beresiko 15 persen terkena penyakit jantung koroner dibandingkan dengan wanita yang jarang mendapatkan jaga malam.

“Ada sejumlah faktor risiko untuk penyakit jantung koroner. Seperti merokok, pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik dan indeks massa tubuh yang tinggi. Kami masih melihat peningkatan risiko penyakit jantung koroner yang berhubungan dengan kerja shift,” kata pemimpin peneliti, Celine Vetter, seperti dilansir laman NBC, Kamis (26/5).

Sementara, The International Agency for Research on Cancer mengatakan, bahwa kerja shift malam mungkin menyebabkan kanker. Ini dikaitkan dengan kanker payudara dan jenis kanker lainnya serta diabetes dan gangguan tidur.

Untuk studi ini, para peneliti melihat dua studi kesehatan perawat wanita sejak 1976. Setiap dua tahun, lebih dari 300 ribu perawat atau mantan perawat melaporkan kesehatan dan kebiasaan mereka.

Tim peneliti mendefinisikan penyak…