Langsung ke konten utama

Perawat Peduli Kesehatan Masyarakat Desa

Reni Nur'aini, Peduli Kesehatan Masyarakat Desa

Sejak kanak-kanak, Reni Nuraeni selalu merasa bahagia ketika dapat membantu orang lain. Rasanya seperti ada kenikmatan yang menetas ketika ia berbuat demikian. Reni kecil pun selalu berangan-angan jika dirinya kelak dapat menjadi perawat agar dapat menolong dan mengobati orang lain di sekitarnya.

Tak ayal, sifatnya tersebut mengantarkannya menjadi seorang aktivis sosial. Sejak 2002 lalu, Reni telah malang melintang menjadi relawan kesehatan untuk beberapa lembaga swadaya masyarakat. Sebelum akhirnya ia menjadi anggota Bulan Sabit Merah Indonesia (BSMI) dan dipercaya menjadi penanggung jawab program Mobil Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) di daerah Parahyangan Timur, Jawa Barat.

Mobil KIA merupakan program yang digagas oleh BSMI. Dengan program tersebut, BSMI menyediakan sebuah minibus yang akan berkeliling memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat, khususnya ibu-ibu dan anak-anak yang tinggal di desa-desa terpelosok.

Reni bergabung dengan BSMI pada 2004. Pada akhir tahun tersebut, bencana dahsyat mengguncang Indonesia. Tsunami meluluhlantakkan bumi Aceh. "Saat itu pun saya berangkat ke sana sebagai relawan untuk membantu para korban," kata Reni.

Selepas melaksanakan tugas mulia tersebut, tepatnya sepanjang 2007 hingga 2008, Reni aktif menjadi relawan BSMI cabang Ciamis, Jawa Barat. Lalu pada akhir 2009, ia telah dipercaya BSMI untuk menjadi penanggung jawab program Mobil KIA untuk daerah Parahyangan Timur, Jawa Barat. Meliputi Garut, Tasik, Banjar, Ciamis, dan Pangandaran.

Persis seperti misi BSMI, dengan Mobil KIA, Reni mulai menyelusup ke daerah-daerah perdesaan terpencil untuk memberikan pelayanan kesehatan gratis. "Fokusnya membantu kesehatan ibu dan anak. Kami menyediakan pelayanan kesehatan, seperti penyuluhan, pemberian makanan tambahan untuk balita, imunisasi, pemeriksaan kehamilan. Kegiatannya mirip posyandu," katanya menjelaskan.

Kendati demikian, kalangan seperti lansia, ucapnya, terkadang juga memanfaatkan jasa Mobil KIA untuk memeriksakan kesehatannya. "Karena kami membawa obat-obatan, jadi terkadang yang lansia juga memeriksakan dirinya pada kami," ujar Muslimah lulusan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia tersebut.

Selain dibekali persediaan obat-obatan, Mobil KIA juga didukung oleh tenaga medis yang cukup profesional. Menurut Reni, Mobil KIA minimal diawaki enam orang. Meliputi dokter, perawat, apoteker, petugas pendaftaran, dan petugas penyuluh kesehatan.

Setelah tujuh tahun menjalani rutinitasnya sebagai penanggung jawab Mobil KIA, Reni menyadari bahwa bantuan kesehatan yang diberikannya memang betul-betul dibutuhkan oleh masyarakat yang tinggal di desa-desa terpelosok. Tak jarang pula Reni dan rekan-rekannya harus kewalahan akibat berjubelnya pasien yang mendaftar.

Seperti di sebuah desa di Garut. Reni mengaku pernah menangani sekitar 600 ibu hamil yang ingin memeriksakan kandungannya dengan sarana ultasonografi (USG) yang disediakan Mobil KIA. "Saya sampai bingung karena terlalu banyak yang mendaftar. Sebab, kalau mereka harus periksa USG, memang harus ke kota dan jaraknya cukup jauh," jelasnya.

Bila menghadapi situasi demikian, Reni biasanya memindahkan lokasi pemeriksaan atau pengobatan dengan meminjam aula balai desa setempat. Hal ini dilakukan agar proses pemeriksaan dapat berjalan lebih lancar dan nyaman.

Selain kasus tersebut, Reni dan kawan-kawannya terkadang harus pula menangangi pasien dengan masalah kesehatan yang cukup serius. Seperti stroke, gejala atau dugaan kanker, infeksi saluran pernapasan, hingga pengidap tumor.

Kendati demikian, Reni tetap berupaya memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada mereka sesuai kapasitas dan kemampuan yang dimiliki dirinya dan teman-temannya di Mobil KIA. "Kalau memang butuh dirujuk, akan kami rujuk ke rumah sakit," ujarnya.

Menurut Reni, selama ini pihaknya selalu melakukan survei untuk mengetahui desa mana saja yang membutuhkan bantuan pelayanan kesehatan. Cara lain untuk mendapatkan data tersebut terkadang ditempuh dengan cara sowan kepada kepala-kepala dinas kesehatan terkait. "Kami sowan kepada kepala dinas dan nanti kami diberi tahu desa mana yang membutukan pelayanan kesehatan dari kami," ujarnya.

Semua hal itu dilakukan agar bantuan pelayanan kesehatan melalui program Mobil KIA tepat sasaran. Sebab, Reni berpendapat, memang masih cukup banyak desa yang membutuhkan bantuan pelayanan kesehatan. Karena itu, Mobil KIA biasanya hanya mampir satu kali ke setiap desa.

Kendati demikian, Reni mengungkapkan, melalui Mobil KIA, ia juga telah memiliki desa-desa binaan. Jumlahnya hanya satu desa di setiap kabupaten Parahyangan Timur.

Di desa binaan, kata Reni, Mobil KIA biasanya menyokong pusat pelayanan kesehatan setempat dengan fasilitas yang memadai, seperti USG untuk ibu-ibu hamil. Selain itu, Mobil KIA juga akan rutin mendatangi desa tersebut untuk memantau atau mengevaluasi bantuan pelayanan kesehatan yang telah diberikan.

Hingga saat ini, selain memberikan bantuan kesehatan, program lain yang sedang gencar dilakukan adalah memberikan penyuluhan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan kesehatan kepada para pelajar. Ia menilai, hal ini tidak kalah penting sebagai upaya preventif untuk mencegah tumbuh atau tersebarnya sebuah penyakit.

Reni mengakui, selama menjadi penanggung jawab program Mobil KIA, tidak ditemukan hambatan atau kendala berarti. Walaupun cukup banyak desa yang sulit ditembus karena medannya yang sulit, seperti naik turun bukit. Namun, hal tersebut masih mampu diatasinya.

Kegigihannya untuk memberikan pertolongan dan bantuan kesehatan kepada mereka yang membutuhkan seakan menjadi amunisi Reni untuk menerabas segala rintangan. Sebab, seperti yang telah disinggung sebelumnya, membantu dan menolong orang lain selalu menetaskan kebahagiaan dalam batinnya. Oleh karman Dikarma ed: Hafidz Muftisany




sumber: republikacoid

Komentar

Pos populer dari blog ini

Perawat Kecam Sikap Arogansi Gubernur Jambi Zumi Zola

Suaraperawat.com, Jakarta._ Menanggapi sikap dari Gubernur Jambi, Zumi Zola menuai ribuan protes serta kecaman dari puluhan ribu perawat yang tergabung dalam komunitas perawat di sosial media.

Mereka menilai Zumi Zola mengamuk, menghardik dan membanting kursi, pukul meja bahkan juga menendang tempat sampah saat ia keluar dari ruangan petugas jaga rumah sakit adalah perbuatan yang sangat blunder dan penuh arogansi.

"Kepada orang biasa saja tidaklah patut berbuat demikian , mirip seperti menggebah ayam yang masuk ke pekarangan, apalagi terhadap perawat dan dokter yang merupakan orang-orang terdidik. Dan sikap arogansi ini dilakukan oleh seorang gubernur", komentar salah satu supers di grup Suara Perawat.

Kronologis kejadiannya adalah ketika orang nomor satu di Jambi ini inspeksi mendadak (sidak) pada Jumat (20/1), dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Ia mendapati pegawai tugas jaga, perawat dan dokter yang tidur, lalu ia mengamuk, menghardik serta membanting kursi dan pukul meja…

SURAT TERBUKA KAMI ”SUARA PERAWAT INDONESIA” UNTUK BAPAK GUBERNUR ZUMI ZOLA YANG TERHORMAT

Minggu 22 januari 2017 terus ramai perbincangan di media sosial mengenai bapak gubernur yang terhormat bapak Zumi Zola terkait sidaknya ke RSUD Raden Mataher Jambi, dan beredar pula vidio yang berdurasi kurang lebihnya 3 menit, banyak kontroversi dari para netizen dalam menanggapi vidio tersebut.

Terlepas dari semua kasus ini, biarlah profesi kami profesi tenaga kesehatan yang khususnya kami perawat indonesia menjadi sebuah ajang evaluasi, evaluasi kami di berbagai lini, semoga dari kejadian ini akan menjadi hikmah buat kami tenaga kesehatan khusunya kami perawat indonesia.


Dear bapak gubernur yang terhormat,
Dalam melakukan sidak dan mengevaluasi kami selaku tenaga kesehatan khusunya kami Perawat Indonesia, perlakukanlah kami sebagai profesi perlakukanlah kami sebagai manusia, kami masih mempunyai hati dan perasaan, kesalahan kami bukanlah kesalahan seperti maling bahkan koruptor yang benar-benar hina yang menyengsarakan rakyat.

Dalam melakukan evaluasi tidak harus dengan intonasi …

Perawat Shift Malam Beresiko Tinggi Terkena Penyakit Jantung Koroner

Para peneliti menemukan bahwa perawat yang mendapatkan shift malam selama 10 tahun atau lebih, beresiko 15 persen terkena penyakit jantung koroner dibandingkan dengan wanita yang jarang mendapatkan jaga malam.

“Ada sejumlah faktor risiko untuk penyakit jantung koroner. Seperti merokok, pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik dan indeks massa tubuh yang tinggi. Kami masih melihat peningkatan risiko penyakit jantung koroner yang berhubungan dengan kerja shift,” kata pemimpin peneliti, Celine Vetter, seperti dilansir laman NBC, Kamis (26/5).

Sementara, The International Agency for Research on Cancer mengatakan, bahwa kerja shift malam mungkin menyebabkan kanker. Ini dikaitkan dengan kanker payudara dan jenis kanker lainnya serta diabetes dan gangguan tidur.

Untuk studi ini, para peneliti melihat dua studi kesehatan perawat wanita sejak 1976. Setiap dua tahun, lebih dari 300 ribu perawat atau mantan perawat melaporkan kesehatan dan kebiasaan mereka.

Tim peneliti mendefinisikan penyak…