Langsung ke konten utama

Perawat Ini Sedih Tak Bisa Mudik, Namun Bangga Bisa Layani Pasien

Tak bisa mudik lantaran harus menunaikan tugas sebagai perawat, membuat Ika Ocdita Wulandari. Namun profesinya yang berinteraksi kepada orang yang sedang sakit, dan berupaya menyembuhkan mereka, diakuinya jadi sesuatu yang cukup membanggakan baginya.
SuaraPerawat,_“Kalau orang (Kabupaten) Ketapang bilang, piluk. Sedih yang mendalam gitu rasanya,” ujar Ika Ocdita Wulandari (25) .

Kalimat itu diungkapkannya, menggambarkan betapa ia merasakan kesedihan, karena tak bisa berkumpul bersama kedua orangtua pada lebaran kali ini.

Lantaran harus menunaikan tanggungjawabnya, gadis yang bekerja sebagai perawat di Rumah Sakit (RS) dr Anton Soedjarwo Bhayangkara Pontianak ini, memang harus menjalani lebaran di tempatnya bekerja. Akibatnya, ia tak bisa ‘mudik’ ke kampung halaman, bersua kedua orangtuanya.

Alumnus Stikes Yarsi Pontianak, 2009 ini mengakui, ini jadi momen pertama kali baginya harus melalui lebaran tanpa orangtuanya. Kedua orangtuanya, diakuinya sempat protes begitu mengetahui perihal ini.

Ia memaklumi keberatan dari orangtuanya itu. Apa yang diinginkan orangtuanya, disebutnya juga jadi keinginan dirinya. Hanya saja, situasi dimana ia harus tetap masuk bekerja seperti biasa, disebutnya membuat keinginan itu harus dipendam dalam-dalam.

Ia lalu menjelaskan situasi ini kepada orangtuanya. Perlahan, orangtuanya memaklumi situasi yang dihadapinya. “Yang penting komunikasi dengan orangtua minta maaf dan sebagainya,” tukasnya.

Meskipun merasa sedih karena tak bisa mudik, ia mengaku merasa tetap ikhlas. Selain itu, ada kebanggaan tersendiri yang dirasakannya, karena bisa melayani masyarakat.

“Ketika mereka (pasien) sakit, masih ada kami para perawat yang menemani mereka,” ujar putri pasangan Sugiono dan Reni Oktavia ini.
Penulis: Ishak
Editor: Mirna Tribun
Sumber: Tribun Pontianak

Komentar

Pos populer dari blog ini

Perawat Kecam Sikap Arogansi Gubernur Jambi Zumi Zola

Suaraperawat.com, Jakarta._ Menanggapi sikap dari Gubernur Jambi, Zumi Zola menuai ribuan protes serta kecaman dari puluhan ribu perawat yang tergabung dalam komunitas perawat di sosial media.

Mereka menilai Zumi Zola mengamuk, menghardik dan membanting kursi, pukul meja bahkan juga menendang tempat sampah saat ia keluar dari ruangan petugas jaga rumah sakit adalah perbuatan yang sangat blunder dan penuh arogansi.

"Kepada orang biasa saja tidaklah patut berbuat demikian , mirip seperti menggebah ayam yang masuk ke pekarangan, apalagi terhadap perawat dan dokter yang merupakan orang-orang terdidik. Dan sikap arogansi ini dilakukan oleh seorang gubernur", komentar salah satu supers di grup Suara Perawat.

Kronologis kejadiannya adalah ketika orang nomor satu di Jambi ini inspeksi mendadak (sidak) pada Jumat (20/1), dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Ia mendapati pegawai tugas jaga, perawat dan dokter yang tidur, lalu ia mengamuk, menghardik serta membanting kursi dan pukul meja…

SURAT TERBUKA KAMI ”SUARA PERAWAT INDONESIA” UNTUK BAPAK GUBERNUR ZUMI ZOLA YANG TERHORMAT

Minggu 22 januari 2017 terus ramai perbincangan di media sosial mengenai bapak gubernur yang terhormat bapak Zumi Zola terkait sidaknya ke RSUD Raden Mataher Jambi, dan beredar pula vidio yang berdurasi kurang lebihnya 3 menit, banyak kontroversi dari para netizen dalam menanggapi vidio tersebut.

Terlepas dari semua kasus ini, biarlah profesi kami profesi tenaga kesehatan yang khususnya kami perawat indonesia menjadi sebuah ajang evaluasi, evaluasi kami di berbagai lini, semoga dari kejadian ini akan menjadi hikmah buat kami tenaga kesehatan khusunya kami perawat indonesia.


Dear bapak gubernur yang terhormat,
Dalam melakukan sidak dan mengevaluasi kami selaku tenaga kesehatan khusunya kami Perawat Indonesia, perlakukanlah kami sebagai profesi perlakukanlah kami sebagai manusia, kami masih mempunyai hati dan perasaan, kesalahan kami bukanlah kesalahan seperti maling bahkan koruptor yang benar-benar hina yang menyengsarakan rakyat.

Dalam melakukan evaluasi tidak harus dengan intonasi …

Perawat Shift Malam Beresiko Tinggi Terkena Penyakit Jantung Koroner

Para peneliti menemukan bahwa perawat yang mendapatkan shift malam selama 10 tahun atau lebih, beresiko 15 persen terkena penyakit jantung koroner dibandingkan dengan wanita yang jarang mendapatkan jaga malam.

“Ada sejumlah faktor risiko untuk penyakit jantung koroner. Seperti merokok, pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik dan indeks massa tubuh yang tinggi. Kami masih melihat peningkatan risiko penyakit jantung koroner yang berhubungan dengan kerja shift,” kata pemimpin peneliti, Celine Vetter, seperti dilansir laman NBC, Kamis (26/5).

Sementara, The International Agency for Research on Cancer mengatakan, bahwa kerja shift malam mungkin menyebabkan kanker. Ini dikaitkan dengan kanker payudara dan jenis kanker lainnya serta diabetes dan gangguan tidur.

Untuk studi ini, para peneliti melihat dua studi kesehatan perawat wanita sejak 1976. Setiap dua tahun, lebih dari 300 ribu perawat atau mantan perawat melaporkan kesehatan dan kebiasaan mereka.

Tim peneliti mendefinisikan penyak…