Langsung ke konten utama

PERAWAT GELAR SUNATAN MASSAL


LEUWILIANG- bogoronline.com – Ada suasana yang berbeda di ruang aula Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Leuwiliang. Sebagian perawat dan bidan sibuk melayani pasien sunatan, satu per satu anak-anak yang mayoritas di bawah umur tujuh tahun tersebut dibawa ke sebuah ruangan, di sana dokter dengan ramah menyambut anak-anak tersebut untuk disunat.

Rupanya kejadian ini rutin dilaksanakan para perawat untuk memperingati Hari Perawat Internasional yang jatuh pada tanggal 12 Mei, hal ini untuk menunjukan bhakti sosial seorang perawat kepada masayarakat.

Ketua Panitia Sunatan Massal Ade Rio Suhardani mengatakan, ini kita laksanakan bertepatan dengan Hari Perawat Internasional pada bulan Mei yang lalu. Namun karena berdekatan dengan momentum Hari Jadi Bogor (HJB) ke-534 maka baru kita lakukan sekarang. Kegiatan sunatan masal ini tentunya dilaksanakan tanpa memungut biaya sepeser pun kepada pasien.

“Pada sunatan massal ini kita targetkan 30 orang anak yang tinggal di sekitar RSUD, mereka adalah anak-anak yatim dan yang berasal dari keluarga tidak mampu. Namun hari ini yang terdaftar hanya 20 anak dan hanya 15 orang saja yang datang, sisianya membatalkan dengan berbagai alas an. Namun yang terpenting kita bisa lebih mendekatkan diri dengan masyarakat dan kegiatan ini dilakukan secara berkelanjutan”, papar Ade.

Ade menambahkan, harapannya tentu memberikan informasi kepada masyarakat bahawa RSUD Leuwiliang selain melayani pasien pada umumnya, namun ada kegiatan-kegiatan yang bermanfaat untuk masyarakat seperti sunatan massal ini dan penyuluhan-penyuluhan tentang kesehatan masyarakat.

Kita melaksanakan seminar keperawatan tetang penanganan awal pada pasien, terutama mereka para pasien yang masuk IGD. Ini diikuti oleh perwakilan perawat di rumah sakit se-kota dan kabupaten Bogor, seluruhnya berjumlah seratus orang. Kegiatan ini kedepan akan terus kita perkuat bahkan bukan hanya untuk perawat tapi untuk masyarakat. Bagaimanapun masyarakat juga butuh penyuluhan kesehatan, maka sebagai pelayan kesehatan kita harus hadir di tengah-tengah masyarakat. (BO/Diskominfo))

Komentar

Pos populer dari blog ini

Perawat Kecam Sikap Arogansi Gubernur Jambi Zumi Zola

Suaraperawat.com, Jakarta._ Menanggapi sikap dari Gubernur Jambi, Zumi Zola menuai ribuan protes serta kecaman dari puluhan ribu perawat yang tergabung dalam komunitas perawat di sosial media.

Mereka menilai Zumi Zola mengamuk, menghardik dan membanting kursi, pukul meja bahkan juga menendang tempat sampah saat ia keluar dari ruangan petugas jaga rumah sakit adalah perbuatan yang sangat blunder dan penuh arogansi.

"Kepada orang biasa saja tidaklah patut berbuat demikian , mirip seperti menggebah ayam yang masuk ke pekarangan, apalagi terhadap perawat dan dokter yang merupakan orang-orang terdidik. Dan sikap arogansi ini dilakukan oleh seorang gubernur", komentar salah satu supers di grup Suara Perawat.

Kronologis kejadiannya adalah ketika orang nomor satu di Jambi ini inspeksi mendadak (sidak) pada Jumat (20/1), dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Ia mendapati pegawai tugas jaga, perawat dan dokter yang tidur, lalu ia mengamuk, menghardik serta membanting kursi dan pukul meja…

SURAT TERBUKA KAMI ”SUARA PERAWAT INDONESIA” UNTUK BAPAK GUBERNUR ZUMI ZOLA YANG TERHORMAT

Minggu 22 januari 2017 terus ramai perbincangan di media sosial mengenai bapak gubernur yang terhormat bapak Zumi Zola terkait sidaknya ke RSUD Raden Mataher Jambi, dan beredar pula vidio yang berdurasi kurang lebihnya 3 menit, banyak kontroversi dari para netizen dalam menanggapi vidio tersebut.

Terlepas dari semua kasus ini, biarlah profesi kami profesi tenaga kesehatan yang khususnya kami perawat indonesia menjadi sebuah ajang evaluasi, evaluasi kami di berbagai lini, semoga dari kejadian ini akan menjadi hikmah buat kami tenaga kesehatan khusunya kami perawat indonesia.


Dear bapak gubernur yang terhormat,
Dalam melakukan sidak dan mengevaluasi kami selaku tenaga kesehatan khusunya kami Perawat Indonesia, perlakukanlah kami sebagai profesi perlakukanlah kami sebagai manusia, kami masih mempunyai hati dan perasaan, kesalahan kami bukanlah kesalahan seperti maling bahkan koruptor yang benar-benar hina yang menyengsarakan rakyat.

Dalam melakukan evaluasi tidak harus dengan intonasi …

Perawat Shift Malam Beresiko Tinggi Terkena Penyakit Jantung Koroner

Para peneliti menemukan bahwa perawat yang mendapatkan shift malam selama 10 tahun atau lebih, beresiko 15 persen terkena penyakit jantung koroner dibandingkan dengan wanita yang jarang mendapatkan jaga malam.

“Ada sejumlah faktor risiko untuk penyakit jantung koroner. Seperti merokok, pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik dan indeks massa tubuh yang tinggi. Kami masih melihat peningkatan risiko penyakit jantung koroner yang berhubungan dengan kerja shift,” kata pemimpin peneliti, Celine Vetter, seperti dilansir laman NBC, Kamis (26/5).

Sementara, The International Agency for Research on Cancer mengatakan, bahwa kerja shift malam mungkin menyebabkan kanker. Ini dikaitkan dengan kanker payudara dan jenis kanker lainnya serta diabetes dan gangguan tidur.

Untuk studi ini, para peneliti melihat dua studi kesehatan perawat wanita sejak 1976. Setiap dua tahun, lebih dari 300 ribu perawat atau mantan perawat melaporkan kesehatan dan kebiasaan mereka.

Tim peneliti mendefinisikan penyak…