Langsung ke konten utama

Saat Mau Dimandikan, Tiba-tiba Hidung Mayat Hilang.. Kok Bisa?



YOGYAKARTA - Warga Jragan, Poncosari, Srandakan, Bantul, Purwanti Sari (25) mengaku menerima jenazah ibunya, Wakiyah (49), dalam keadaan tak utuh. Dia menduga, kasus ini terkait pencurian organ yang melibatkan RSUD Panembahan Senopati Bantul, Yogyakarta.

Namun melalui kuasa hukumnya Suparlan, RSUD Panembahan Senopati Bantul membantah tudingan pencurian organ itu. Dia menyatakan tidak pernah mengambil cuping hidung pasien Wakiyah yang meninggal pada 30 Januari 2016.

"Yang jadi kenyataaan itu saat jenazah mau dimandikan, cuping hidungnya hilang, ini yang sedang ditangani Polda, apakah hilang di rumah sakit atau di rumah pasien," ujar Suparlan di Yogyakarta, Jumat (20/5/2016).

Dia menyatakan, perawatan jenazah di RSUD Bantul sudah sesuai dengan standar operasional prosedur (SOP), termasuk dalam setiap bagian selalu didampingi keluarga pasien.

Hal yang sama diungkapkan Mujianto, staf bagian etik hukum RSUD Panembahan Senopati. Menurut dia, standar operasional prosedur perawatan jenazah sudah sesuai dengan pedoman pengelolaan perawatan jenazah Kemenkes dan UU.

"Apa yang diterapkan ke Wakiyah waktu itu sama dengan yang diterapkan ke jenazah pasien lainnya," tutur Mujianto.

Dia menuturkan, begitu pasien dinyatakan meninggal di rumah sakit, maka dirawat oleh perawat jenazah. Dan itu pun selalu disertai keluarga. Setelah itu dilakukan serah terima ke kamar jenazah yang disertai dengan bukti tertulis dan ditunjukkan kepada keluarga.

Setelah menunggu selama 2 jam, sambung Mujianto, jenazah dapat dibawa pulang keluarga.

"Kronologis ini sama persis dengan pra-rekonstruksi polda dan dalam tiap tahap tersebut suami Wakiyah yang bernama Ismadi selalu mendampingi," ucap Mujianto.

Sementara itu pada 4 Maret 2016, perwakilan dari keluarga, yaitu anak kandung Wakiyah, Purwantisari, menunjuk LBH Keadilan Semesta (LBH KITA) menjadi kuasa hukum keluarga almarhumah diduga korban pencurian organ.***


Editor : ridwan iskandar
Sumber : liputan6.com
See more at: http://www.gosumbar.com

Komentar

Pos populer dari blog ini

Perawat Kecam Sikap Arogansi Gubernur Jambi Zumi Zola

Suaraperawat.com, Jakarta._ Menanggapi sikap dari Gubernur Jambi, Zumi Zola menuai ribuan protes serta kecaman dari puluhan ribu perawat yang tergabung dalam komunitas perawat di sosial media.

Mereka menilai Zumi Zola mengamuk, menghardik dan membanting kursi, pukul meja bahkan juga menendang tempat sampah saat ia keluar dari ruangan petugas jaga rumah sakit adalah perbuatan yang sangat blunder dan penuh arogansi.

"Kepada orang biasa saja tidaklah patut berbuat demikian , mirip seperti menggebah ayam yang masuk ke pekarangan, apalagi terhadap perawat dan dokter yang merupakan orang-orang terdidik. Dan sikap arogansi ini dilakukan oleh seorang gubernur", komentar salah satu supers di grup Suara Perawat.

Kronologis kejadiannya adalah ketika orang nomor satu di Jambi ini inspeksi mendadak (sidak) pada Jumat (20/1), dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Ia mendapati pegawai tugas jaga, perawat dan dokter yang tidur, lalu ia mengamuk, menghardik serta membanting kursi dan pukul meja…

SURAT TERBUKA KAMI ”SUARA PERAWAT INDONESIA” UNTUK BAPAK GUBERNUR ZUMI ZOLA YANG TERHORMAT

Minggu 22 januari 2017 terus ramai perbincangan di media sosial mengenai bapak gubernur yang terhormat bapak Zumi Zola terkait sidaknya ke RSUD Raden Mataher Jambi, dan beredar pula vidio yang berdurasi kurang lebihnya 3 menit, banyak kontroversi dari para netizen dalam menanggapi vidio tersebut.

Terlepas dari semua kasus ini, biarlah profesi kami profesi tenaga kesehatan yang khususnya kami perawat indonesia menjadi sebuah ajang evaluasi, evaluasi kami di berbagai lini, semoga dari kejadian ini akan menjadi hikmah buat kami tenaga kesehatan khusunya kami perawat indonesia.


Dear bapak gubernur yang terhormat,
Dalam melakukan sidak dan mengevaluasi kami selaku tenaga kesehatan khusunya kami Perawat Indonesia, perlakukanlah kami sebagai profesi perlakukanlah kami sebagai manusia, kami masih mempunyai hati dan perasaan, kesalahan kami bukanlah kesalahan seperti maling bahkan koruptor yang benar-benar hina yang menyengsarakan rakyat.

Dalam melakukan evaluasi tidak harus dengan intonasi …

Perawat Shift Malam Beresiko Tinggi Terkena Penyakit Jantung Koroner

Para peneliti menemukan bahwa perawat yang mendapatkan shift malam selama 10 tahun atau lebih, beresiko 15 persen terkena penyakit jantung koroner dibandingkan dengan wanita yang jarang mendapatkan jaga malam.

“Ada sejumlah faktor risiko untuk penyakit jantung koroner. Seperti merokok, pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik dan indeks massa tubuh yang tinggi. Kami masih melihat peningkatan risiko penyakit jantung koroner yang berhubungan dengan kerja shift,” kata pemimpin peneliti, Celine Vetter, seperti dilansir laman NBC, Kamis (26/5).

Sementara, The International Agency for Research on Cancer mengatakan, bahwa kerja shift malam mungkin menyebabkan kanker. Ini dikaitkan dengan kanker payudara dan jenis kanker lainnya serta diabetes dan gangguan tidur.

Untuk studi ini, para peneliti melihat dua studi kesehatan perawat wanita sejak 1976. Setiap dua tahun, lebih dari 300 ribu perawat atau mantan perawat melaporkan kesehatan dan kebiasaan mereka.

Tim peneliti mendefinisikan penyak…