Langsung ke konten utama

RUMAH SAKIT TIDAK PUNYA RUANG JENAZAH



POS KUPANG.COM, KEFAMENANU - Akses jalan parah sekali. Menghambat pasien dari Rote, Flores, Jakarta, trutama saat hujan. Tidak ada jaringan internet. Jaringan listrik kadang tidak jelas. Tenaga dokter dan perawat kurang.

RS Naob, Noemuti-TTU didirian tanggal 7 Oktober tahun 1996 oleh barawati PRR Naob, merupakan penerus karya Mgr. Gabriel Manek, SVD. Berdirinya RS tersebut dimulai dari mengunjungi penderita kusta dari rumah ke rumah. Tahun 1997 membuka pliklinik kemudian tahun 1998 membuka rehabilitasi penyakit ksta. Dinyatakan lulus akreditasi April 2016.

Tahun 2007 berdirilah rehabilitasi rumah sakit kusta dan cacat umum bunda pembantu abadi, Desa Naob, Kecamatan Noemuti-TTU. Didirikanya RS tersebut untuk membantu, baik promotif, preventif, koperatif maupun tehabilitatif. Tidak hanya mengobati dan menyembuhkan, namun juga mengembalikan harga diri penderita kusta serta menghilangkan stigma masyarakat diasingkan atau tidak boleh didekati.

Rumah Sakit kelas C yang memiliki luas bangunan 5038 meter persegi dengan luas tanah 10 meter persegi, ini terbilang minim sentuhan para donatur, namun memiliki visi tersendiri yakni menjadi unggulan di seluruh daratan Bumi Biinmaffo serta memberikan daya pikat kepada masyarakat untuk mendapat pelayanan kesehatan. Memiliki 50 kapasitas tempat tidur. Melayani UGD 24 jam.

Untuk pasien kusta dan pasien umum ada laboratorium, psikoterapi, rotese dan rehabilitasi medik. Kerja sama dengan dokter spesialis kulit sesuai keuangan.

"Ada pasien meninggal tapi tidak punya kamar jenazah jadi pakai ruangan biasa. Ada yang lakukan amputasi. Banyak pasien dari Flores, Jakarta, TTS, Belu, Kupang dan TTU. Kita layani pasien 99 persen masyarakat tidak mampu. Banyak ditinggalkan keluarga," kata Sr. Marsela.

Pihak RS Naob saat ini mengandalkan sumur bor dan sumur gali. Ironisnya, jika kemarau panjang melanda akan kering. Penerangan memiliki kekuatan 14 ribu kw. Dibantu genset berkekuatan 30 ribu kw.

"Pasien yang direhabilitasi kita arahkan bekerja setelah satu tahun berobat, sesuai kemampuan dan keahlian seperti menenun, pertanian, peternakan, kerajinan tangan. Anak-anak pun disekolahkan,"lanjut Sr. Marsela.

Rencananya, demikian Sr. Marsela, pihaknya akan membuka laboratorium komputer dan taman baca untuk anak-anak.

"Kami di sini akses jalan parah sekali. Menghambat pasien dari Rote, Flores terutama saat hujan. Di sini tidak ada jaringan internet. Jaringan listrik kadang tidak jelas. Tenaga dokter sangat kurang. Tenaga dokter dan perawat kurang,"kata Sr. Marsela.

"Kepada BRI dan Pak Bupati kami sangat mengucapkan limpah terima kasih atas bantuan yang diberikan. Ini ( 30 unit lemari dan 12 unit tempat tidur stainles senilai Rp 105 juta ) sangat membantu,"ujar Dr. Nining.

Bupati Timor Tengah Utara (TTU) Raymundus Sau Fernandes, sebagai putera asli Noemuti mengatakan, letak RS Naob tepat di perbatasan TTU, TTS dan Belu. Ia mengatakan, akses jalan tahun 2017 TTU akan mendapat dukungan anggaran DAK khusus jalan dan jembatan Rp 100 miliar. Untuk itu, akan segera dibangun jalan dan juga embung di dekat RS Naob.

"Saya akan angkat beberapa bidan untuk ditempatkan di sini (RS Naob). Ada beberapa dokter yang dibiayai dari APBD kabupaten mudah-mudahan cepat selesai setelah studi akan ditempatkan satu orang di RS Naob," ujar Ray disambut tepuk tangan meriah.

Ray mengatakan, RS tersebut harus diperhatikan oleh GubernurNTT. Pasalnya, melayani pasien kabupaten lain bahkan dari Jakarta dan Surabaya.

"Kami juga akan menyampaikan ke Gubernur kekurangan yang ada. Kita juga bisa membangun ruang jenazah melalui dana CSR BRI,"kata Ray. (abe/habis)

sumber: kupang tribunnews com

Komentar

Pos populer dari blog ini

Perawat Kecam Sikap Arogansi Gubernur Jambi Zumi Zola

Suaraperawat.com, Jakarta._ Menanggapi sikap dari Gubernur Jambi, Zumi Zola menuai ribuan protes serta kecaman dari puluhan ribu perawat yang tergabung dalam komunitas perawat di sosial media.

Mereka menilai Zumi Zola mengamuk, menghardik dan membanting kursi, pukul meja bahkan juga menendang tempat sampah saat ia keluar dari ruangan petugas jaga rumah sakit adalah perbuatan yang sangat blunder dan penuh arogansi.

"Kepada orang biasa saja tidaklah patut berbuat demikian , mirip seperti menggebah ayam yang masuk ke pekarangan, apalagi terhadap perawat dan dokter yang merupakan orang-orang terdidik. Dan sikap arogansi ini dilakukan oleh seorang gubernur", komentar salah satu supers di grup Suara Perawat.

Kronologis kejadiannya adalah ketika orang nomor satu di Jambi ini inspeksi mendadak (sidak) pada Jumat (20/1), dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Ia mendapati pegawai tugas jaga, perawat dan dokter yang tidur, lalu ia mengamuk, menghardik serta membanting kursi dan pukul meja…

SURAT TERBUKA KAMI ”SUARA PERAWAT INDONESIA” UNTUK BAPAK GUBERNUR ZUMI ZOLA YANG TERHORMAT

Minggu 22 januari 2017 terus ramai perbincangan di media sosial mengenai bapak gubernur yang terhormat bapak Zumi Zola terkait sidaknya ke RSUD Raden Mataher Jambi, dan beredar pula vidio yang berdurasi kurang lebihnya 3 menit, banyak kontroversi dari para netizen dalam menanggapi vidio tersebut.

Terlepas dari semua kasus ini, biarlah profesi kami profesi tenaga kesehatan yang khususnya kami perawat indonesia menjadi sebuah ajang evaluasi, evaluasi kami di berbagai lini, semoga dari kejadian ini akan menjadi hikmah buat kami tenaga kesehatan khusunya kami perawat indonesia.


Dear bapak gubernur yang terhormat,
Dalam melakukan sidak dan mengevaluasi kami selaku tenaga kesehatan khusunya kami Perawat Indonesia, perlakukanlah kami sebagai profesi perlakukanlah kami sebagai manusia, kami masih mempunyai hati dan perasaan, kesalahan kami bukanlah kesalahan seperti maling bahkan koruptor yang benar-benar hina yang menyengsarakan rakyat.

Dalam melakukan evaluasi tidak harus dengan intonasi …

Perawat Shift Malam Beresiko Tinggi Terkena Penyakit Jantung Koroner

Para peneliti menemukan bahwa perawat yang mendapatkan shift malam selama 10 tahun atau lebih, beresiko 15 persen terkena penyakit jantung koroner dibandingkan dengan wanita yang jarang mendapatkan jaga malam.

“Ada sejumlah faktor risiko untuk penyakit jantung koroner. Seperti merokok, pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik dan indeks massa tubuh yang tinggi. Kami masih melihat peningkatan risiko penyakit jantung koroner yang berhubungan dengan kerja shift,” kata pemimpin peneliti, Celine Vetter, seperti dilansir laman NBC, Kamis (26/5).

Sementara, The International Agency for Research on Cancer mengatakan, bahwa kerja shift malam mungkin menyebabkan kanker. Ini dikaitkan dengan kanker payudara dan jenis kanker lainnya serta diabetes dan gangguan tidur.

Untuk studi ini, para peneliti melihat dua studi kesehatan perawat wanita sejak 1976. Setiap dua tahun, lebih dari 300 ribu perawat atau mantan perawat melaporkan kesehatan dan kebiasaan mereka.

Tim peneliti mendefinisikan penyak…