Langsung ke konten utama

RS Pratama Buleleng Siap Beroperasi



BJ Online SINGARAJA – Bupati Buleleng, Bali, Putu Agus Suradnyana mengklaim rumah sakit tanpa kelas (Pratama) di Kecamatan Seririt siap beroperasi untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat di wilayah itu. “Saya berharap RS Pratama di Seririt dapat memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat di wilayah Buleleng Barat,” kata Bupati Agus Suradnyana, Sabtu.

Rumah sakit yang tepatnya berlokasi di Desa Tangguwisia tersebut sudah diprogramkan sejak 2013 lalu dan kini pembangunan gedungnya telah rampung dan berdiri kokoh sesuai perencanaan. Agus memaparkan, proyek yang menghabiskan anggaran sebesar Rp24,5 miliar itu tinggal menunggu penyiapan beberapa fasilitas pendukung terutama alat-alat kesehatan.

“Dana sebesar itu merupakan dana yang diperoleh Pemkab Buleleng dari Dana Tugas Pembantuan (TP) Pemerintah Pusat dibawah anggaran Kementerian Kesehatan,” katanya.

Bupati Agus Suradnyana yang juga Ketua DPC PDIP Buleleng itu menambahkan, pihaknya sempat meninjau kesiapan tenaga medis dalam melayani masyarakat. Di RS Pratama pertama di Bali bagian utara itu, Agus berharap dapat menambah terus kapasitas pelayanan kesehatan baik itu di Puskesmas, Rumah Sakit Pratama dan RSUD Kabupaten Buleleng.

Selain itu pula, perawat yang ada di rumah sakit tersebut lebih sedikit dibandingkan komposisi bidan karena RS pratama harus mempunyai perawat yang beredukasi tinggi yang mengetahui standar keperawatan. “Bidan yang diterima di rumah sakit pratama juga tidak harus mutlak menjadi bidan. Kami akan pilih lagi yang belum mempunyai keterampilan bagus sekali mungkin akan dijadikan sebagai perawat,” ujar Agus Suradnyana. (ant)

sumber: http://bisnisjakarta.co.id/

Komentar

Pos populer dari blog ini

Perawat Kecam Sikap Arogansi Gubernur Jambi Zumi Zola

Suaraperawat.com, Jakarta._ Menanggapi sikap dari Gubernur Jambi, Zumi Zola menuai ribuan protes serta kecaman dari puluhan ribu perawat yang tergabung dalam komunitas perawat di sosial media.

Mereka menilai Zumi Zola mengamuk, menghardik dan membanting kursi, pukul meja bahkan juga menendang tempat sampah saat ia keluar dari ruangan petugas jaga rumah sakit adalah perbuatan yang sangat blunder dan penuh arogansi.

"Kepada orang biasa saja tidaklah patut berbuat demikian , mirip seperti menggebah ayam yang masuk ke pekarangan, apalagi terhadap perawat dan dokter yang merupakan orang-orang terdidik. Dan sikap arogansi ini dilakukan oleh seorang gubernur", komentar salah satu supers di grup Suara Perawat.

Kronologis kejadiannya adalah ketika orang nomor satu di Jambi ini inspeksi mendadak (sidak) pada Jumat (20/1), dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Ia mendapati pegawai tugas jaga, perawat dan dokter yang tidur, lalu ia mengamuk, menghardik serta membanting kursi dan pukul meja…

SURAT TERBUKA KAMI ”SUARA PERAWAT INDONESIA” UNTUK BAPAK GUBERNUR ZUMI ZOLA YANG TERHORMAT

Minggu 22 januari 2017 terus ramai perbincangan di media sosial mengenai bapak gubernur yang terhormat bapak Zumi Zola terkait sidaknya ke RSUD Raden Mataher Jambi, dan beredar pula vidio yang berdurasi kurang lebihnya 3 menit, banyak kontroversi dari para netizen dalam menanggapi vidio tersebut.

Terlepas dari semua kasus ini, biarlah profesi kami profesi tenaga kesehatan yang khususnya kami perawat indonesia menjadi sebuah ajang evaluasi, evaluasi kami di berbagai lini, semoga dari kejadian ini akan menjadi hikmah buat kami tenaga kesehatan khusunya kami perawat indonesia.


Dear bapak gubernur yang terhormat,
Dalam melakukan sidak dan mengevaluasi kami selaku tenaga kesehatan khusunya kami Perawat Indonesia, perlakukanlah kami sebagai profesi perlakukanlah kami sebagai manusia, kami masih mempunyai hati dan perasaan, kesalahan kami bukanlah kesalahan seperti maling bahkan koruptor yang benar-benar hina yang menyengsarakan rakyat.

Dalam melakukan evaluasi tidak harus dengan intonasi …

Perawat Shift Malam Beresiko Tinggi Terkena Penyakit Jantung Koroner

Para peneliti menemukan bahwa perawat yang mendapatkan shift malam selama 10 tahun atau lebih, beresiko 15 persen terkena penyakit jantung koroner dibandingkan dengan wanita yang jarang mendapatkan jaga malam.

“Ada sejumlah faktor risiko untuk penyakit jantung koroner. Seperti merokok, pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik dan indeks massa tubuh yang tinggi. Kami masih melihat peningkatan risiko penyakit jantung koroner yang berhubungan dengan kerja shift,” kata pemimpin peneliti, Celine Vetter, seperti dilansir laman NBC, Kamis (26/5).

Sementara, The International Agency for Research on Cancer mengatakan, bahwa kerja shift malam mungkin menyebabkan kanker. Ini dikaitkan dengan kanker payudara dan jenis kanker lainnya serta diabetes dan gangguan tidur.

Untuk studi ini, para peneliti melihat dua studi kesehatan perawat wanita sejak 1976. Setiap dua tahun, lebih dari 300 ribu perawat atau mantan perawat melaporkan kesehatan dan kebiasaan mereka.

Tim peneliti mendefinisikan penyak…