Langsung ke konten utama

Polisi Periksa Perawat RS Arun


* Perkara Dugaan Salah Transfusi Darah pada Pasien

LHOKSEUMAWE - Penyidik Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Satreskrim Polres Lhokseumawe, sudah melayangkan surat panggilan untuk dua tersangka kasus dugaan salah transfusi darah terhadap pasien Rumah Sakit (RS) Arun, Lhokseumawe, yang terjadi awal Maret 2016. Kedua tersangka yaitu Mu, perawat RS Arun, dan La petugas UTD PMI Aceh Utara.

Kapolres Lhokseumawe, AKBP Anang Triarsono, melalui Kasat Reskrim AKP Yasir SE, Kamis (26/5) menyebutkan, surat panggilan untuk Mu dan La dilayangkan dua hari lalu. Perawat Mu diminta hadir ke Mapolres Lhokseumawe untuk diperiksa sebagai tersangka pada Jumat (27/5) hari ini. Sedangkan La akan diperiksa polisi pada Senin (30/5).

Kasat Reskrim Polres Lhokseumawe AKP Yasir menjelaskan, sejak perkara tersebut dilaporkan oleh keluarga pasien atas nama Badriah, warga Geulumpang Sulu Timu, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara, polisi sudah memeriksa lebih dari 20 orang saksi.

Para saksi yang diperiksa, sebut Yasir, yaitu petugas di RS Arun dan Unit Transfusi Darah (UTD) Palang Merah Indonesia (PMI) Aceh Utara, manajemen RS Arun dan PMI Aceh Utara, serta para saksi ahli dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Dinas Kesehatan Lhokseumawe, dan Persatuan Perawat Nasional indonesia (PPNI).

Setelah memeriksa saksi-saksi tersebut, polisi juga sudah melakukan ekspose perkara kasus itu di Kejaksaan Negeri (Kejari) Lhokseumawe, beberapa hari lalu. Sekarang, kata Yasir, penyidik akan menyelesaikan pemeriksaan terhadap kedua tersangka.

“Jadi dalam minggu ini kita akan selesaikan pemeriksaan terhadap kedua tersangka. Setelah selesai pemeriksaan terhadap tersangka, maka langsung dilanjutkan pemberkasan, dan selanjutnya dilimpahkan ke kejaksaan,” demikian AKP Yasir.(bah)

Sumber: aceh tribunnews com

Komentar

Pos populer dari blog ini

Perawat Kecam Sikap Arogansi Gubernur Jambi Zumi Zola

Suaraperawat.com, Jakarta._ Menanggapi sikap dari Gubernur Jambi, Zumi Zola menuai ribuan protes serta kecaman dari puluhan ribu perawat yang tergabung dalam komunitas perawat di sosial media.

Mereka menilai Zumi Zola mengamuk, menghardik dan membanting kursi, pukul meja bahkan juga menendang tempat sampah saat ia keluar dari ruangan petugas jaga rumah sakit adalah perbuatan yang sangat blunder dan penuh arogansi.

"Kepada orang biasa saja tidaklah patut berbuat demikian , mirip seperti menggebah ayam yang masuk ke pekarangan, apalagi terhadap perawat dan dokter yang merupakan orang-orang terdidik. Dan sikap arogansi ini dilakukan oleh seorang gubernur", komentar salah satu supers di grup Suara Perawat.

Kronologis kejadiannya adalah ketika orang nomor satu di Jambi ini inspeksi mendadak (sidak) pada Jumat (20/1), dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Ia mendapati pegawai tugas jaga, perawat dan dokter yang tidur, lalu ia mengamuk, menghardik serta membanting kursi dan pukul meja…

SURAT TERBUKA KAMI ”SUARA PERAWAT INDONESIA” UNTUK BAPAK GUBERNUR ZUMI ZOLA YANG TERHORMAT

Minggu 22 januari 2017 terus ramai perbincangan di media sosial mengenai bapak gubernur yang terhormat bapak Zumi Zola terkait sidaknya ke RSUD Raden Mataher Jambi, dan beredar pula vidio yang berdurasi kurang lebihnya 3 menit, banyak kontroversi dari para netizen dalam menanggapi vidio tersebut.

Terlepas dari semua kasus ini, biarlah profesi kami profesi tenaga kesehatan yang khususnya kami perawat indonesia menjadi sebuah ajang evaluasi, evaluasi kami di berbagai lini, semoga dari kejadian ini akan menjadi hikmah buat kami tenaga kesehatan khusunya kami perawat indonesia.


Dear bapak gubernur yang terhormat,
Dalam melakukan sidak dan mengevaluasi kami selaku tenaga kesehatan khusunya kami Perawat Indonesia, perlakukanlah kami sebagai profesi perlakukanlah kami sebagai manusia, kami masih mempunyai hati dan perasaan, kesalahan kami bukanlah kesalahan seperti maling bahkan koruptor yang benar-benar hina yang menyengsarakan rakyat.

Dalam melakukan evaluasi tidak harus dengan intonasi …

Perawat Shift Malam Beresiko Tinggi Terkena Penyakit Jantung Koroner

Para peneliti menemukan bahwa perawat yang mendapatkan shift malam selama 10 tahun atau lebih, beresiko 15 persen terkena penyakit jantung koroner dibandingkan dengan wanita yang jarang mendapatkan jaga malam.

“Ada sejumlah faktor risiko untuk penyakit jantung koroner. Seperti merokok, pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik dan indeks massa tubuh yang tinggi. Kami masih melihat peningkatan risiko penyakit jantung koroner yang berhubungan dengan kerja shift,” kata pemimpin peneliti, Celine Vetter, seperti dilansir laman NBC, Kamis (26/5).

Sementara, The International Agency for Research on Cancer mengatakan, bahwa kerja shift malam mungkin menyebabkan kanker. Ini dikaitkan dengan kanker payudara dan jenis kanker lainnya serta diabetes dan gangguan tidur.

Untuk studi ini, para peneliti melihat dua studi kesehatan perawat wanita sejak 1976. Setiap dua tahun, lebih dari 300 ribu perawat atau mantan perawat melaporkan kesehatan dan kebiasaan mereka.

Tim peneliti mendefinisikan penyak…