Langsung ke konten utama

Perawat dan Dokter RSUD Sanggau Demo Tuntut Uang Jasa



TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SANGGAU - Puluhan pegawai RSUD Sanggau yang terdiri dari dokter, perawat dan karyawan rumah sakit menggelar aksi damai di halaman RSUD Sanggau, Selasa (24/5/2016).

Mereka menuntut pihak manajemen RSUD segera membayar jasa pelayanan medis yang sudah lima bulan belum dibayar.

Aksi yang dimulai sekitar pukul 09.30 WIB itu berlangsung dengan pengawalan ketat sejumlah Satuan Pengaman (Satpam)RSUD Sanggau dan sejumlah personel Polres Sanggau.

Dalam aksinya, para pengunjuk rasa meminta agar jasa pelayanan medis mereka segera dibayarkan.

"Kalau dari tahun ini dari Januari belum dicairkan, seharusnya kalau sistem BPJS, misalnya di Januari pembayaran paling tidak di Maret sudah dapat, jumlahnya saya tidak tahu tergantung pasien," kata koordinator aksi, dr Horas Nainggolan, Selasa (24/5/2016).

Kendati melakukan aksi, ia membantah aksi yang mereka lakukan tidak mengganggu pelayanan pasien di rumah sakit.

"Karena masih ada yang mewakili di tiap-tiap ruangan, petugas-petugas masih ada yang kita tinggalkan," kata Horas.


Akibat telatnya pembayaran yang dilakukan manajemen rumah sakit, diakui dokter umum ini berdampak pada keluarga jasa medis yang tidak bisa memenuhi kebutuhan mereka.

"Dampaknya kemana-mana, karena kita sudah melaksanakan kewajiban kita dan semua orang inikan punya keluargakan, untuk bayar makan, sekolah anak dan lain-lain," ujarnya.

Menanggapi aksi unjuk rasa ini, Anggota Dewan Pengawas RSUD Sanggau, Yohanes Andriyus Wijaya berharap dengan kejadian ini, semua pihak bisa mengambil hikmahnya.

Menurutnya, kejadian ini juga sebagai masukan untuk melakukan perubahan-perubahan pengelolaan RSUD yang sudah berstatus Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) penuh ke arah yang lebih baik lagi.

"Tidak bisa dipungkiri bahwa sudah ada kemajuan-kemajuan dalam pelayanan dan pengelolaan RSUD tapi memang masih belum maksimal seperti yang diharapkan, " jelasnya.

Oleh karena itu, ia meminta kepada manajemen RSUD agar menjadikan peristiwa ini sebagai momentum untuk RSUD lebih berbenah, tumbuh dan berkembang seperti yang diharapkan oleh Pemda dan masyarakat Sanggau.

"Saya minta perbaiki manajemen yang kurang-kurang, apalagi kalau bicara jasa medis, kalau memang sudah waktunya jangan lagi ditundak-tunda," harapnya.

http:// pontianak. tribunnews. com/

Komentar

Pos populer dari blog ini

Perawat Kecam Sikap Arogansi Gubernur Jambi Zumi Zola

Suaraperawat.com, Jakarta._ Menanggapi sikap dari Gubernur Jambi, Zumi Zola menuai ribuan protes serta kecaman dari puluhan ribu perawat yang tergabung dalam komunitas perawat di sosial media.

Mereka menilai Zumi Zola mengamuk, menghardik dan membanting kursi, pukul meja bahkan juga menendang tempat sampah saat ia keluar dari ruangan petugas jaga rumah sakit adalah perbuatan yang sangat blunder dan penuh arogansi.

"Kepada orang biasa saja tidaklah patut berbuat demikian , mirip seperti menggebah ayam yang masuk ke pekarangan, apalagi terhadap perawat dan dokter yang merupakan orang-orang terdidik. Dan sikap arogansi ini dilakukan oleh seorang gubernur", komentar salah satu supers di grup Suara Perawat.

Kronologis kejadiannya adalah ketika orang nomor satu di Jambi ini inspeksi mendadak (sidak) pada Jumat (20/1), dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Ia mendapati pegawai tugas jaga, perawat dan dokter yang tidur, lalu ia mengamuk, menghardik serta membanting kursi dan pukul meja…

SURAT TERBUKA KAMI ”SUARA PERAWAT INDONESIA” UNTUK BAPAK GUBERNUR ZUMI ZOLA YANG TERHORMAT

Minggu 22 januari 2017 terus ramai perbincangan di media sosial mengenai bapak gubernur yang terhormat bapak Zumi Zola terkait sidaknya ke RSUD Raden Mataher Jambi, dan beredar pula vidio yang berdurasi kurang lebihnya 3 menit, banyak kontroversi dari para netizen dalam menanggapi vidio tersebut.

Terlepas dari semua kasus ini, biarlah profesi kami profesi tenaga kesehatan yang khususnya kami perawat indonesia menjadi sebuah ajang evaluasi, evaluasi kami di berbagai lini, semoga dari kejadian ini akan menjadi hikmah buat kami tenaga kesehatan khusunya kami perawat indonesia.


Dear bapak gubernur yang terhormat,
Dalam melakukan sidak dan mengevaluasi kami selaku tenaga kesehatan khusunya kami Perawat Indonesia, perlakukanlah kami sebagai profesi perlakukanlah kami sebagai manusia, kami masih mempunyai hati dan perasaan, kesalahan kami bukanlah kesalahan seperti maling bahkan koruptor yang benar-benar hina yang menyengsarakan rakyat.

Dalam melakukan evaluasi tidak harus dengan intonasi …

Perawat Shift Malam Beresiko Tinggi Terkena Penyakit Jantung Koroner

Para peneliti menemukan bahwa perawat yang mendapatkan shift malam selama 10 tahun atau lebih, beresiko 15 persen terkena penyakit jantung koroner dibandingkan dengan wanita yang jarang mendapatkan jaga malam.

“Ada sejumlah faktor risiko untuk penyakit jantung koroner. Seperti merokok, pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik dan indeks massa tubuh yang tinggi. Kami masih melihat peningkatan risiko penyakit jantung koroner yang berhubungan dengan kerja shift,” kata pemimpin peneliti, Celine Vetter, seperti dilansir laman NBC, Kamis (26/5).

Sementara, The International Agency for Research on Cancer mengatakan, bahwa kerja shift malam mungkin menyebabkan kanker. Ini dikaitkan dengan kanker payudara dan jenis kanker lainnya serta diabetes dan gangguan tidur.

Untuk studi ini, para peneliti melihat dua studi kesehatan perawat wanita sejak 1976. Setiap dua tahun, lebih dari 300 ribu perawat atau mantan perawat melaporkan kesehatan dan kebiasaan mereka.

Tim peneliti mendefinisikan penyak…