Langsung ke konten utama

Jayapura Baru Miliki 174 Tenaga Keperawatan

Wali Kota Jayapura, Benhur Tomi Mano menyebutkan sebanyak 454 tenaga kesehatan yang bertugas di 12 Puskesmas yang ada didaerahnya.

"Data tenaga kesehatan di Kota Jayapura, per 1 Januari 2016 perawat sebanyak 174 orang, tenaga bidan 67 orang, asisten apoteker 22 orang, tenaga pengkajian 19 orang," kata Benhur di Jayapura, Kamis (26/05/2016).

Selanjutnya, tenaga bidan gizi 79 orang, tenaga analis kesehatan/tenaga laboratorium 50 orang, Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM) sebanyak 43 orang.

"Kecuali profesi dokter masih dibutuhkan lima orang yakni dokter gigi empat orang, apoteker tiga orang, diploma tiga perawat gigi sebanyak enam orang," ujarnya.

Dia mengatakan, jam kerja bagi tenaga kesehatan di Puskesmas sesuai izin berkisar lima sampai enam jam per hari, padahal sesuai izin jam kerja ditentukan tujuh jam per hari.

Demi meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan untuk memenuhi pendidikan diploma tiga keperawatan, maka dilakukan pelatihan-pelatihan teknis untuk meningkatkan profesional tenaga keperawatan maka seharusnya berbanding lurus dengan peningkatan pelayanan bagi masyarakat.

Hingga kini, kata dia, tenaga kesehatan yang harus ditingkatkan kompetensinya adalah tenaga kesehatan laboratorium/tenaga leb yaitu berpendidikan SMAK setingkat SMA yang berjumlah 29 orang dan tersebar 12 Puskesmas yang ada di Kota Jayapura sedangkan syarat mininal adalah harus diploma tiga.

"Program peningkatan kompetensi ini ditujukan kepada tenaga pegawai auditorium Puskesmas di lingkup Dinas Kesehatan Provinsi Papua, dengan tujuan supaya memiliki kompetensi, keterampilan dan keahlian dalam bidangnya masing-masing," ujarnya.

Rimanews com

Komentar

Pos populer dari blog ini

Perawat Kecam Sikap Arogansi Gubernur Jambi Zumi Zola

Suaraperawat.com, Jakarta._ Menanggapi sikap dari Gubernur Jambi, Zumi Zola menuai ribuan protes serta kecaman dari puluhan ribu perawat yang tergabung dalam komunitas perawat di sosial media.

Mereka menilai Zumi Zola mengamuk, menghardik dan membanting kursi, pukul meja bahkan juga menendang tempat sampah saat ia keluar dari ruangan petugas jaga rumah sakit adalah perbuatan yang sangat blunder dan penuh arogansi.

"Kepada orang biasa saja tidaklah patut berbuat demikian , mirip seperti menggebah ayam yang masuk ke pekarangan, apalagi terhadap perawat dan dokter yang merupakan orang-orang terdidik. Dan sikap arogansi ini dilakukan oleh seorang gubernur", komentar salah satu supers di grup Suara Perawat.

Kronologis kejadiannya adalah ketika orang nomor satu di Jambi ini inspeksi mendadak (sidak) pada Jumat (20/1), dini hari sekitar pukul 00.30 WIB. Ia mendapati pegawai tugas jaga, perawat dan dokter yang tidur, lalu ia mengamuk, menghardik serta membanting kursi dan pukul meja…

SURAT TERBUKA KAMI ”SUARA PERAWAT INDONESIA” UNTUK BAPAK GUBERNUR ZUMI ZOLA YANG TERHORMAT

Minggu 22 januari 2017 terus ramai perbincangan di media sosial mengenai bapak gubernur yang terhormat bapak Zumi Zola terkait sidaknya ke RSUD Raden Mataher Jambi, dan beredar pula vidio yang berdurasi kurang lebihnya 3 menit, banyak kontroversi dari para netizen dalam menanggapi vidio tersebut.

Terlepas dari semua kasus ini, biarlah profesi kami profesi tenaga kesehatan yang khususnya kami perawat indonesia menjadi sebuah ajang evaluasi, evaluasi kami di berbagai lini, semoga dari kejadian ini akan menjadi hikmah buat kami tenaga kesehatan khusunya kami perawat indonesia.


Dear bapak gubernur yang terhormat,
Dalam melakukan sidak dan mengevaluasi kami selaku tenaga kesehatan khusunya kami Perawat Indonesia, perlakukanlah kami sebagai profesi perlakukanlah kami sebagai manusia, kami masih mempunyai hati dan perasaan, kesalahan kami bukanlah kesalahan seperti maling bahkan koruptor yang benar-benar hina yang menyengsarakan rakyat.

Dalam melakukan evaluasi tidak harus dengan intonasi …

Perawat Shift Malam Beresiko Tinggi Terkena Penyakit Jantung Koroner

Para peneliti menemukan bahwa perawat yang mendapatkan shift malam selama 10 tahun atau lebih, beresiko 15 persen terkena penyakit jantung koroner dibandingkan dengan wanita yang jarang mendapatkan jaga malam.

“Ada sejumlah faktor risiko untuk penyakit jantung koroner. Seperti merokok, pola makan yang buruk, kurangnya aktivitas fisik dan indeks massa tubuh yang tinggi. Kami masih melihat peningkatan risiko penyakit jantung koroner yang berhubungan dengan kerja shift,” kata pemimpin peneliti, Celine Vetter, seperti dilansir laman NBC, Kamis (26/5).

Sementara, The International Agency for Research on Cancer mengatakan, bahwa kerja shift malam mungkin menyebabkan kanker. Ini dikaitkan dengan kanker payudara dan jenis kanker lainnya serta diabetes dan gangguan tidur.

Untuk studi ini, para peneliti melihat dua studi kesehatan perawat wanita sejak 1976. Setiap dua tahun, lebih dari 300 ribu perawat atau mantan perawat melaporkan kesehatan dan kebiasaan mereka.

Tim peneliti mendefinisikan penyak…